Spanduk bertuliskan "Tuhan Membusuk" dalam kegiatan OSCAAR di UIN Surabaya menjadi berita ramai. Bahkan, ada salah satu media menulis, Setelah Dosennya Menginjak-injak Al-Qur'an, kini Mahasiswa Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk.

Pada kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) tahun 2014 ini, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat mengangkat tema, "Tuhan Membusuk". OSCAAR 2014 bagi mahasiswa baru UIN Sunan Ampel itu berlangsung sejak kamis 28 Agustus, dan berakhir pada 30 Agustus 2014.

Suaranews mengutip santrinews memberitakan, dari beberapa penelusuran alumni Ushuluddin UIN Sunan Ampel sebenarnya sudah dari dulu mendoktrin mahasiswanya seperti itu.
ibaratnya mereka didoktrin membenci 'agama', terutama islam.

"Sejak saya kuliah pertama kali sekitar tahun 2004. ketika OSPEK/OSCAAR, kami sudah dididik untuk gemar mengkritisi agama, terutama Islam. Saya waktu itu sering mengkritisi kakak senior, karena didoktrin mengkritisi Islam yang lebih terasa sepertinya mereka membenci Islam," ungkap salah satu alumni Ushuluddin UIN Sunan Ampel yang tidak ingin disebutkan namanya.

Bahkan sering sekali kakak senior mereka menghambat waktu-waktu shalat. Dengan diberikan banyak aktifitas, seperti agar melupakan waktu shalat.

"Masjid Sunan Ampel itu besar, dan adzannya terdengar keras. Tetapi waktu ospek kami malah disibukkan dengan beragam aktivitas. Sepertinya ingin agar kami melupakan shalat, dan tak jarang kakak senior malah bilang, shalat itu tidak perlu di masjidcukup dihati saja kita shalatnya," kata mantan mahasiswa UIN Sunan Ampel yang berdomisili di Siwalankerto, Surabaya. (Lihat Setelah Dosennya Pernah Menginjak-injak Al-Qur'an, Kini Mahasiswa Uin Sunan Ampel Anggap Tuhan Membusuk, santrinews/suaranews).

Untuk memahami kalimat 'Tuhan Membusuk' dalam sepanduk di UIN Surabaya yang jadi ramai dimedia itu, mari kita rujuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) apa makna Tuhan, dan apa pula arti Membusuk.

- Tuhan (kata benda) 1.) sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang MahaKuasa, MahaPerkasa, dsb:- Yang Maha Esa, 2.) sesuatu yang dianggap tuhan: pada orang-orang tertentu uanglah sbg -- nya;

- mem*bu*suk v menjadi busuk: bangkai itu ielah mulai-; bu*suk, 1.) rusak dan bau tidak sedap (tt buah, daging, dsb); mangga itu sudah-; 2.) berbau tidak sedap (tt bangkai dsb): bangkai tikus itu -- benar baunya; (KBBI)

Merujuk kepada kamus tersebut, kalimat "Tuham Membusuk" maknanya tidak jauh dari pengertian: Tuhan yang diyakini, dipuja, dan disembah telah menjadi busuk (sebagaimana bangkai tikus).

Ketika spanduk itu dibuat oleh mahasiswa perguruan tinggi islam, berarti Tuhan itu maksudnya hanyalah Alloh yang Maha Hidup. Karena dalam Islam, Tuhan yang berhak disembah itu hanya Alloh. Itu telah dijelaskan dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingt Aku." (Qs Thaha: 14). 

Alloh itu Maha Hidup tidak mati.

"Dan bertawakallah kepada Alloh yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanyadalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Alloh) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.'' (Qs Al- Furqan: 58-59)

Firman Alloh: Dan bertawakallah kepada Alloh yang hidup (kekal) yang tidak mati itu jelas telah menolak bunyi spanduk yang kurangajar "Tuhan Membusuk" itu.

Kalau pembuat tulisan di spanduk itu masih menggunakan itu masih menggunakan otak, maka akan sangat malu sekali menulis kalimat itu. Kenapa? 

Karena, Alloh menjadikan orang yang sudah mati namun tidak membusuk saja mampu, bahkan menghidupkan yang sudah mati saja mampu, kenapa penulis spanduk itu sampai berani mengatakan "Tuhan Membusuk"? Bukankah itu pertanda penulis spanduk itu tidak menggunakan otak?

Bukti dari adanya jazad manusia yang tidak membusuk alias diutuhkan oleh Alloh Ta'ala adalah yang telah Alloh firmankan:
"Dan kami memungkinkan Bani israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan balatentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Alloh)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami." (Qs Yunus: 90-92).

Perkataan "Tuhan Membusuk" dalam spanduk itu setelah dalam analisa ini dapat diartikan bahwa itu ditulis oleh orang yang tidak menggunakan otak, masih pula menolak kebenaran, sekaligus menghina Alloh Ta'ala.

Dalam Islam, menolak kebenaran sambil menghina atau meremehkan manusia itu di sebut sombong, menurut Nabi shallallahu 'alaihi wassalam dalam sabdanya:

Artinya: "Diriwayatkan dari Abdulah bin Mas'ud dari Nabi saw, beliau bersabda: 'Tidak masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom'. Seseorang berkata: '(Bagaimana jika) seseorang suka pakaiannya baik dan sandalnya juga baik'. Nabi saaw bersabda: 'Sesungguhnya Alloh itu indah dan mencintai keindahan. (Sedangkan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia (lain)'." (HR. Muslim)

Ketika menolak kebenaran dan memandang rendah manusia itu adalah kesombongan, maka bagaimana pula ketika sudah menolak kebenaran, sedangkan yang direndahkan bahkan dihina, disebut membusuk itu adalah Tuhan (Alloh). Bukankah itu benar-benar kesombongan yang luar biasa? Padahal, sabda Nabi shallallahu 'alaihi wassalam tersebut:
'Tidak akan masuk surga siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan meski sebesar biji atom'.
Lha, perkataan "Tuhan Membusuk" itu kesombongan yang berapa juta kali lipat dibanding besarnya partikel atom?

Ingatlah, orang tua mengulaihkan anaknya ke perguruan tinggi Islam tentu saja bukan untuk menjadi orang yang sombong luar biasa. Bahkan Umat Islam pada umumnya juga sama sekali tidak menginginkan perguruan tinggi Islam se-Indonesia ini jadi ajang pemurtadan luar biasa seperti itu. Apalagi sudah sejak tahun 2005 telah diingatkan dengan tegas dalam satu buku berjudul Ada Pemurtadan di IAIN yang maksudnya memperingatkan seluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Tegakah kita membiarkan generasi penerus bangsa ini digarap besar-besaran oleh para penentang Alloh Ta'ala untuk menjadi manusia-manusia yang kurangajar lagi super sombong?

Tentu saja tidak tega, Tetapi, apa reaksi dan aksi kita, itu masih di pertanyakan, karena selama ini belum ada buktiyang menunjukan bahwa kita tidak tegagenerasi bangsa ini dirusak secara besar-besarani itu. Sudah saatnya kita tunjukan bukti. 
Paling kurang, para pelaku itu ditindak tegas dan disosialisasikan hukumannya, agar tidak lebih rusak lagi, dan tidak berani melakukan penodaan agama lagi. Semoga.

Jakarta, Senin 6 Dzulqa'dah 1435H/ 1 September 2014

Oleh: Hartono Ahmad Jaiz
Penulis Buku Ada Pemurtadan di IAIN 

0 comments:

Post a Comment