Makassar - Sekjen Majlis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, Ustadz Bachtiar Nasir mengajak para mahasiswa calon da'i untuk mulai "sadar media" dalam menyampaikan dakwahnya. Mengingat masyarakat Indonesia yang menjadi obyek dakwah Islam, kini sudah terlanjur mengenal dunia informasi modern yang sudah semakin canggihnya.

"Jika kita tidak mampu tampil secara representatif diberbagai media komunikasi yang canggih itu, maka dakwah Islam kita bisa ditinggalkan oleh umat itu sendiri," tegasnya saat memberi materi Kuliah Umum Perdana Semester Ganjil di Kampun STIBA, Makasar, pada Senin (1/9/'14.

Ust. Bachtiar memberi contoh pada pengalaman seorang syaikh dari Arab Saudi yang suatu saat tampil dalam sebuah tabligh akbar di Masjid Istiqlal. Menurut Syaikh tersebut ketika tampil menyampaikan tausiyah, tutur Pimpinan AQL Islamic Center ini, yang menjadi konsentrasi perhatiannya adalah dimana letak kamera televisi.

Karena audiens yang menyaksikan dia melalui kamera televisi itu jauh lebih besar jumlahnya dibanding jama'ah yang hadir langsung di lokasi. Sehingga Syaikh tersebut selalu sadar untuk menatap kamera, agar terbangun interaksi antara dia dengan masyarakat luas yang mengikuti dakwahnya.

Sehingga, lanjut Ust. Bachtiar yang akrab disapa Abi Bachtair dalam program Hafidz Qur'an Trans7, jika selama ini ia tampil di sejumlah media teelevisi mainstream, ia juga harus bisa menerima masukan dari tim kreatif televisi yang bekerjasama dengannya. sejauh materi dari ilmu-ilmu keislaman yang akan disampaikannya tidak melenceng dari ketentuan aqidah dan syari'at.

"Konten harus aik dan benar, konsep kreatif serta penampilan kita juga harus bisa dinikmati masyarakat luas," tandasnya.

Lebih jauh dalam kuliah umumnya, Ust. Bachtiar memaparkan tentang situasi politik di Indonesia menjelang pilpres 2014 lalu. Di mana ia pernah terlibat langsung sebagai penggagas dalam "pertemuan cikini" dalam upayanya menyatukan partai-partai islam yang saat Pileg 2014 mencapai 32% suara.

Ia juga menjelaskan tentang peta akhir zaman yang bersumber pada Al-Qur'an dan Hadits, dalam membaca peta politik internasional saat ini. Termasik tentang isu ISIS (Islamic State of Iraq & Syam) yang keberadaannya di Suriah sempat dihebohkan di Indonesia.

Ust. Bachtiar Nasir berpesan, agar para calon da'i dan calon ulama yang akan lahir dari STIBA, untuk tidak terpancing pada isu-isu yang di sebarkan oleh musuh-musuh Islam. "Kita harus bijak menilai informasi yang kita terima lewat media sosial yang ada," katanya.

Karenanya, lanjut Ust.Bachtiar, umat Islam harus berpegang pada pendapat ulama yang ada, ketika menerima atau mendapat informasi yang tergolong sensitif. "Jangan bertindak sendiri dan terburu-buru bereaksi, agar umat tidak di manfaatkan oleh musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan citra Islam," tandasnya lagi. (Abu Lanang)


1 comments:

Post a Comment